1. Sekilas AEC

    “AEC adalah bentuk integrasi ekonomi yang direncanakan untuk dicapai pada tahun 2015. Dengan pencapaian tersebut maka ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan basis produksi dimana terjadi arus barang, jasa, investasi dan tenaga terampil yang bebas, serta aliran modal yang lebih bebas. Adanya aliran komoditi dan faktor produksi tersebut diharapkan membawa ASEAN menjadi kawasan yang makmur dan kompetitif dengan perkembangan ekonomi yang merata, serta menurunya tingkat kemiskinan dan perbedaan sosial ekonomi di kawasan ASEAN.

    Menurut Dr. Darwis Said, SE, M.Ak, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makasar

    “Kebijakan integrasi ekonomi negara-negara ASEAN membatasi kewenangan suatu negara untuk menggunakan kebijakan fiskal, keuangan serta moneter untuk mendorong dan melindungi kinerja ekonomi dalam negeri.

    Upaya optimalisasi potensi dan kesiapan hendaknya diarahkan pada penyiapan dan perbaikan infrastruktur fisik, reformasi regulasi dan kelembagaan, peningkatan kualitas SDM, penciptaan iklim usaha yang kondusif, dan pentingnya membangkitkan semangat nasionalisme terutama dalam mencintai produk dalam negeri.”

    Nasionalisme adalah faktor penting dalam mendukung daya saing suatu negara. Beberapa kelompok masyarakat lebih bangga dan lebih merasa nyaman menggunakan barang-barang luar negeri. Hal ini akibat pandangan mengenai kualitas barang luar yang lebih baik disertai pandangan pesimis mengenai kualitas barang lokal. Walaupun dalam kenyataanya dalam beberapa kasus barang-barang produk lokal memiliki kualitas yang lebih baik. Maka dari itu kecintaan terhadap produk-produk lokal adalah kunci yang penting agar Indonesia tetap menjadi tuan rumah di negaranya sendiri.

    Begitu pula dengan sumber daya manusia.

    Nasionalisme

    “Narasumber Verry Yahya dari staf ahli perindustrian mengakui indonesia tidak dapat menutup kran impor masuknya barang dan jasa asing yang telah disepakati bersama anggota komunitas Asean, hanya Nasionalisme kebangsaan akan tetap menggunakan dan mencintai produk dalam negeri menjadi senjata Indonesia menangkis arus AEC 2015 “

    Nasionalisme adalah rasa cinta pada negara sendiri. Kepekaan pada suatu hal yang fana, yang bahkan tidak bisa kita terka wujudnya. Tidak usah muluk untuk menjawab, pertanyaan kenapa, cobalah kita menyederhanakan pertanyaanya dengan sebuah pertanyaan apa, apa yang kita cintai?

    Nasioalisme pada apa? Pada negara yang korup, posisi 117, posisi bontot diantara negara-negara korup lainya? Pada negara yang masih membiarkan perbudakan di Sumba? Pada negara yang tidak sanggup berdaulat di tengah kelimpahan sumber dayanya? Pada Negara yang tidak dapat memberikan kenyamanan, menjamin kesehatan, bahkan tidak dapat juga menjamin pangan bagi warga negaranya sendiri? Apa yang benar- benar bisa kita cintai?

    Cinta itu irasional katanya. Nasionalisme adalah bentuk masocistme, menjadi bodoh, dungu, mencoba mencintai ibu tiri yang kejam durjana. Tapi memang itu yang dibutuhkan, keirasionalan cinta.

    Satu satunya cara untuk cinta Indonesia dengan mencinta. Maka mencintalah kawan.

    Cintailah harapan yang menggantung mengenai bangsa Indonesia yang digdaya, Cintailah rakyat yang masih percaya akan hari terang dikemudian hari. Yang harapan serta doanya menggantung pada punggung punggung muda, putera-puteri terbaik bangsa.

    Bagaimana cara menumbuhkan nasionalisme? Kecintaan kita terhadap negara kita ini berawal dari sebuah kepemilikan terhadapnya, tidak lagi perlu banyak alasan untuk bergerak. Karena kita warga negara Indonesia adalah satu-satunya alasan yang kita perlukan. Namun bagaimana cara menumbuhkanya?

    Nasionalisme adalah sebuah pembelajaran akan rasa, sebuah episteme. Seperti pembelajaran episteme lainya dibutuhkan keseharian dalam mencintai Indonesia. Dengan terus menerus membisikan nasionalisme, kecintaan terhadap bangsa sendiri, dalam kehidupan himpunan diharapkan anggota dapat menjiwai pergerakan untuk masyarakat. Keseharian adalah sebuah jembatan yang menghubungkan antara mengetahui potensi serta mengetahui permasalahan dengan pergerakan yang nyata. Keseharianlah yang pada akhirnya menumbuhkan kecintaan kita, menumbuhkan semangat perubahan.

    Seperti para pendahulu kita yang mencintai rakyat-rakyatnya, mencoba menghapuskan penderitaan rakyat yang tertindas, seperti para pendahulu kita yang mencintai harapan-harapan mereka ketika membayangkan kondisi merdeka. Mereka hidup dalam lingkungan yang terus menerus membisikan kata merdeka, melalui pemandangan gamblang penderitaan rakyat, melalui harapan kemerdekaan.

    Oleh karena itu kita memerlukan keseharian yang nasionalis.

    AEC adalah sebuah konteks yang nyata, yang menurut saya bisa digunakan sebagai momen untuk menumbuhkan nasionalisme. Menjadi keseharian, seperti halnya penjajahan di masa lalu. Sebuah peluang, yang mendukung namun juga menghimpit. AEC adalah sebuah bentuk ‘penjajahan’ yang dapat kita gunakan sebagai lecut cambuk untuk kembali memikirkan nasionalisme. AEC secara nyata dapat ‘menindas’ dengan kedatangan pekerja ‘penjajah’ yang ‘merebut’ lahan kerja rakyat Indonesia.

    Namun, kita juga tidak dapat terus menerus membohongi diri sendiri dengan menggunakan barang-barang yang memiliki kualitas buruk, mempekerjakan manusia dengan kualitas yang lebih rendah dibandingkan produk dan sumber daya negara. Memilih suatu hal yang lebih baik adalah sebuah keniscayaan. Sehingga  peningkatan kualitas merupakan suatu hal yang tidak dapat ditinggalkan.

    Mulai dari perbaikan Infrastruktur fisik, agar dapat meningkatkan kualitas dan daya saing produk lokal. Peningkatan mutu SDM sebagai faktor dari kualitas produk yang baik, serta menjadi komoditas jasa yang menjadi objek dalam pasar tunggal ASEAN.

    Bodoh rasanya, ketika kita masih bisa tenang, padahal kejadian agresi ekonomi ini tinggal menunggu waktu.

    Dimana Soekarno muda, Sjahrir muda, Yamin muda berada?

    Vivat-vivat G, IMA-G tetap jaya.

    Gagas Firas Silmi (15211006)

     
  2. …sedikit cemas, banyak rindunya…
    — Payung Teduh, Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan
     
  3. 02:19 13th Jan 2014

    Notes: 1

    Tags: TumpoMurti

    Hari itu perasaan Tumpo biasa saja. Datang terlambat dari waktu yang di tetapkan, seakan akan pertemuanya dengan murti sudah tidak sepenting dulu lagi. Setibanya di tempat yang dituju, Tumpo menyelipkan motornya diantara jubelan kendaraan roda dua lainya. Entah muncul dari mana motor sebanyak itu pikir Tumpo. Setelah menitipkan helm, Tumpo berjalan lambat-lambat tak tergesa gesa, toh ini hari yang biasa.

    Setibanya ditempat yang dijanjikan, untuk beberapa saat Tumpo tidak melihat Murti. Tidak ada pula rasa kecewa, apa pula yang dikecewakan, pertemuan ini tidak jadi pun dunia masih berputar, dan batara kala tetap akan mendorong kita semua ke sudut sudut dimensi yang telah di takdirkan.

    Sampai ketka murti melambaikan tangan dengan kecerianya yang biasa. Tumpo menyambut sapaan itu dengan balasan yang sama hangatnya. Seperti biasa. Perbincangan tak ubahnya seperti perbincangan teman lama yang tidak lagi bertemu untuk waktu yang lama. Perbincangan biasa, kabar, cerita di perantauan, dan sekian lagi pembicaraan normal lainya.

    Dan Tumpo menyadari, Murti pun merasakan hal yang sama.

     
  4. 02:16

    Notes: 2

    Tags: doa

    Doa

    Doa merupakan bentuk ibadah yang paling jujur. Simpuh kita, tangis kita, gelisah kita, menempatkan kita pada penghambaan tulus, rendah untuk memohon pada suatu yang diam, tidak berwujud. Pada tuhan.

    Beruntung lah pada manusia yang masih bisa berdoa dalam tangis, penuh pengharapan. 

     
  5. Mboh

    Mboh itu artinya tidak tahu, suatu simbol dari kosongnya pikiran dan tidak bermaksud untuk mencari tahu.

    Ada sebuah anugrah dari bentuk ketidaksempurnaan manusia yang satu ini. Anugrah dari menjadi bodoh.

    Melanjutkan hidup, dengan tidak berkutat pada kebingungan, pada pertanyaan-pertanyaan.

    Karena hanya orang bodoh yang rela melanjutkan kehidupan yang tidak jelas ujung pangkalnya.

     
  6. Tentang Epidemi

    epi·de·mi /épidémi/ n Dok penyakit menular yg berjangkit dng cepat di daerah yg luas dan menimbulkan banyak korban, msl penyakit yg tidak secara tetap berjangkit di daerah itu; wabah

    Epidemi, kata yang digunakan pada buku Tipping Point  karya Malcolm Gladwell. Bukan hanya mengenai penyakit namun lebih dari itu, epidemi disini membahas tidak hanya wabah penyakit namun ide besar yang mempengaruhi masyarakat, trend, pemikiran bahkan agama.

    Berkembanganya ‘wabah’ di dalam masyarakat ditimbulkan oleh hal hal yang kecil, bukan korporasi besar dengan sistem yang njelimet, dan bukan dari konspirasi konspirasi licik yahudi, juga bukan karena omongan dari mulut kemulut yang berskala kota. Tapi hal kecil bahkan cenderung detail yang ternyata mempengaruhi persebaran sebuah ide. sebuah epidemi.

    Tiga faktor yang membuat sebuah epidemi. 

    1. Hukum yang sedikit
    2. Kelekatan 
    3. dan Konteks

    Hukum yang Sedikit

    Pernah mendengar 80/20? pepatah para ekonom ini mengatakan bahwa 80 persen kerja yang dilakukan sebenarnya hanya dilakukan oleh 20 persen dari keseluruhan pekerja. Hukum-yang-Sedikit kurang lebih membahas mengenai siapa saja 20 persen itu dalam terjadinya sebuah epidemi.

    Epidemi berkembang dipengaruhi oleh 3 macam orang dengan kemampuan sosial yang spesifik. Agen Khusus yang dapat mengembangbiakan sebuah ide dengan begitu cepat, hingga tanpa disadari terhirup masuk kedalam lubang hidung masyarakat dan menetap diotak bagai tumor.

    Orang pertama adalah, Si Penghubung. Orang ini merupakan orang yang ketika berjalan pada sumbu tengah kampus akan disapa serta menyapa berbagai macam orang di berbagai macam labtek. Memiliki kepribadian khusus yang membuat dia dikenali banyak orang dan tidak melupakan orang yang baru dikenalinya.

    Orang kedua adalah Si Bijak. Orang ini merupakan tipe orang yang perkataanya seaakan wahyu, diamini disegala penjuru, menjadi suar dalam ketersesatan orang di ketidaktahuan. Sangat dipercaya serta benar benar menguasai informasi terkini menurut bidangnya.

    Orang yang ketiga adalah Si Penjual, Orang dengan bibir emas dan lidah perak. Persuasif, dan mampu menggugah orang untuk mengikuti ajakanya.

    Contoh kasus, (sedikit elaborasi)

    Pada saat perang kemerdekaan Amerika, ada seorang pemuda yang menjadi pahlawan besar akibat jasanya memberitahukan serangan Inggis ke seluruh penjuru Amerika, sehingga Amerika dapat menahan dan memenangkan perang melawan Inggris. Orang itu bernama Paul Revere.

    Paul Revere bersama seorang rekan diminta untuk menyebarkan berita mengenai serangan Inggris ke desa-desa di Amerika. Lalu keduanya berangkat berkendara dari satu desa ke desa lainya, semalam suntuk kedua pemuda ini memberitahukan berita itu dan mengajak para penduduk desa untuk bersiap. Kemudian  pada pagi hari, tentara Inggris benar benar muncul dan menyerang. Desa yang diberitahu oleh Paul Revere melakukan persiapan dan mampu menahan serangan Inggris. Namun rekanya tidak semujur itu. desa yang diberitahu tidak bersiap dan akhirnya dilibas habis oleh tentara Inggris.

    Pertanyaanya adalah mengapa dengan sebuah informasi yang sama mendapatkan tanggapan yang berbeda? Hal ini disebabkan oleh, kemampuan pembawa pesan dalam membawakan pesanya. Paul Revere adalah seorang Connector, Si Penghubung, dia mengenali banyak orang, sehingga orang-orang di desa desa yang dia kunjungi tidak lagi merasa asing dengan Paul Revere, dia juga dapat menyampaikan berita itu pada karena dia mengenal tokoh tokoh yang ada di desa tersebut. Tokoh yang berlaku sebagai Maven, Si Bijak lah yang meyakinkan orang-orang tersebut bahwa bersiap adalah suatu tindakan yang relevan, dan Ketua Desa lah yang berperan sebagai Sales, Si Penjual yang membuat penduduk desa mau mengangkat pantatnya untuk bergerak dan bersiap.

    Kelekatan

    Selanjutnya adalah, kelekatan. seberapa lekat kah ide tersebut sehingga tetap tertinggal diotak manusia? 

    Kelekatan berhubungan dengan seberapa ide tersebut ‘menarik’ sehingga orang tidak sambil lalu dalam menanggapinya. Akan saya ambil contoh, Maicih. Keripik singkon akan menjadi hal yang biasa, seberapapun tokoh tokoh ‘sedikit’ kita menyinggung dan memperkenalkan keripik singkong, ya keripik singkong akan tetap menjadi keripik singkong. Namun Maicih muncul dengan sebuah gebrakan unik, ide yang lengket, level. Tingkat kepedasan yang berbeda beda dan dapat diatur sedemikian rupa merupakan hal baru dan ide tersebut melekat dan epidemi singkong pun terjadi.

    Yang terakhir adalah Konteks

    Konteks, Lingkungan Sekitar tidak dapat dipungkiri adalah hal yang mengatur kelangsungan epidemi. Dibutuhkan lingkungan yang cocok, serta mendukung terjadinya sebuah epidemi.

    Rokok sudah menjadi sebuah epidemi yang begitu melekat pada otak remaja. Begitu lengket dengan candu nikotin yang nyata dan citra ‘keren’ dari merokok sudah lah sangat mengakar. Kita dapat membuat berbagai macam iklan mengenai bahaya merokok, efek perokok pasif, atau gambar gambar menjijikan mengenai paru paru yang lapuk. Namun semua itu harus bertahan dari lingkungan yang memperlihatkan bahwa orang -orang disekitar masih banyak yang merokok, dan tidak dapat kita pungkiri stigma merokok itu keren sudah dipromosikan melalui berbagai macam media, cowboy, holywood, gangster. Tidak pernah ada dalam bayangan saya, seorang jago tembak di wilayah barat yang tandus terlihat keren dengan menyesap lolipop.

     
  7. Jurnal

    Banyak hal mengenai arsitektur yang semakin lama semakin membuat aku tertarik untuk mendalaminya. Tentang sisi personal yang majemuk, tentang idealisme bentuk dan segala hal yang saling tarik menarik mengenai jawaban atas aristektur terbaik.

    November ini aku mengikuti seminar yang dibawakan oleh Kevin Mark Low. Mencuri waktu pada saat kuliah RE aku mengambil tempat di deretan tengah untuk mendengarkan ceramah langka ini. Kevin menyeretku pada sebuah pemahaman baru mengenai apa itu arsitektur, apa sebenarnya yang kita lakukan agar dikatanan sedang’mendesain’.

    Pertama dia menunjukan sebuah majalah gaya rambut dan mengatakan bahwa kita pasti akan mengatakan penata rambut tentu berada jauh di bawah arsitek, kita mendesain dan mereka hanya menata.

    Lalu dia menunjukan gambar majalah majalah arsitektur. aku pun menyadari bahwa kita pun tak jauh berbeda. Hanya menata bentuk.

    Arsitektur bukan hanya ‘form’ tapi ‘content’, tentang menjawab permasalahan desain dengan bentuk. Tentang menjawab apakah dengan bentuk ini kualitas hidup manusia kan meningkat? interaksi muncul? mudah kah untuk dibentuk? 

    Ketika kita hanya menempatkan bentuk tanpa dapat menjawab dengan rasional mengapa bentuknya seperti itu, maka yang tercipta adalah kepuasan visual yang cenderung egois. personifikasi individu seorang arsitek. postmoderenisme menurutku membawa kita terlalu jauh, gubug yang terdekorasi sudah benar benar kehilangan nyawa pemenuhan kebutuhan sebagai gubug.

    bukan aku tidak menghargai Zaha Hadid dengan bentuk yang liquid, berkarakter. tentu ada maksud yang besar dibalik semua lengkung sensual bangunan itu, tapi seberapa besarkah dibanding fungsinya?

    Juga bukan aku tidak tergetar dengan karya Daniel Libeskind, Jews Museum di Jerman. Sebuah monumen penting, petir pengingat yang tidak lekas pergi di bumi dimana genosida menjadi memiliki simbol yang jelas, holocoust. Tapi apa yang benar-benar dibawa? fungsi museum yang harusnya rendah hati, mempunyai fungsi yang memamerkan karya menjadi tidak kentara. hilang di telan ego Libeskind.

    Patung kurasa lebih menjadi padanan dari bangunan sekarang ini. personifikasi dari imago (katanya Sarah Ginting sih) pematung. hanya itu.

    Selama 80 tahun perkembangan pencakar langit tidak ada yang berubah dari cara orang membersihkan kaca eksteriornnya mulai dari empire state building hingga burj al arab, semua dibersihkan dengan orang yang bergelantungan dengan tali diluarnya, lalu apa permasalah yang benar benar diselesaikan? dibalik bentuk yang beragam, arsitektur tidak berubah isi di dalamnya.

    Tantangan dalam mendesain menjadi sebuah batu halangan yang nyata. Bagaimana elemen estetis menjadi sebuah solusi yang elegan tentang jawaban dari sebuah permasalahan yang rumit, bukan dengan menjadikanya rumit, penuh dengan metafora-metafora campur aduk yang muncul di ujunglidah sesaat sebelum presentasi. 

     
  8. 21:26

    Notes: 2

    Jurnal Akhir November

    Beberapa waktu yang lalu aku diminta untuk membawakan satu topik mengenai tren kepemimpinan di Indonesia. Berhubung sebentar lagi pemilihan presiden, tentu pembicaraan ini menjadi sangat relevan. 

    Sehabis kelas RE aku berbincang dengan Octivany mengenai Gita Wiryawan seorang bakal calon presiden yang siang itu aku tonton di layar laptop. Aku meminta pendapat dia mengenai bakal calon yang satu ini. Dia berkata banyak hal mengenai Gita, mengenai kajian di himpunannya, dan membuat aku menyadari betapa butanya aku mengenai politik di negara sendiri.

    Pandji mengatakan dalam sebuah bukunya bahwa, walaupun terkesan jauh sekali hubungan kita dengan dunia perpolitikan namun sebenarnya setiap langkah yang kita ambil dalam menjalani kehidupan ini terpengaruh olehnya. Bayangkan apabila kita berada di Aceh, tentu kita tidak dapat menikmati kehangatan kopi ketika dingin pagi mulai turun pukul 2 malam sebebas di Bandung. 

    Ketidaktahuan membutakan kita. kenyataanya bukan buta karena tak punya mata namun hanya tidak rela untuk membuka. Takut akan melihat sesuatu yang akan membuat otak menjadi lelah lalu kerumitan itu akan tinggal diotaknya dan menjadi tumor.

    Aku sekarang buta, bodoh dalam ombang ambing kekosongan.

     
  9. Bangga.

    Beberapa waktu yang lalu aku ikut dalam sebuah forum nasional mahasiswa arsitektur. Berbicara mengenai banyak hal, mengenal manusia. Dan bukan hanya nama, alamat, juga tempat kuliah. Bahkan lebih umum dari itu. Tentang kedalaman isi pikiran. Gelas nya tidak sebening itu. Tidak dapat melambangkan isi gelas, tapi cukup untuk mengetahui bahwa gelas-gelas itu sudah penuh dengan apapun yang mengisinya. 

    Bangga.

    Gelas-gelas itu melihat bahwa satu sama lain kosong. menganggap setiap gelas yang dia temui harus diisi penuh hingga luber dengan isi yang dia bawa. Terheran-heran kenapa isinya tidak mau diterima. Gelas penuh dengan minyak mengganggap gelas penuh air itu kosong, dan sebaliknya juga.

    Bangga.

     
  10. FGC2013-52E53B.