1. 10:42 20th Aug 2014

    Notes: 12

    Reblogged from sumsummary

    sumsummary:

    Chapter 1

    Background

    I recently had the chance to re-read Paulo Freire’s Pedagogy of the Oppressed as part of a course on Public Engagement in Science at Cornell. We spent the semester looking at different approaches for engaging laypeople (or “non-experts”) in science, through…

     
  2. Reka Kita

    Pernah aku mencoba reka kata, dengan kata aku dan kita.

    Tapi kita tidak pernah bersua hingga yang tersisa tinggal aku bersama reka.

    Kata mereka kita tidak akan pernah bersua,

    tapi dengan reka, kita jumpa dalam kata.

     
  3. 14:37 25th Jul 2014

    Notes: 1

    Karimun Jawa 2013

     
  4. 14:25

    Notes: 1

    image: Download

    Ceremai, 2013

    Ceremai, 2013

     
  5. Kebenaran dan Kepentingan

    Kepentingan dan kebenaran menjadi topik yang hangat di kepala sejak beberapa bulan yang lalu. Dimanakah posisi kita pada dua kutub yang kadang mencair pada beku yang sama. 

    Pada dunia yang begitu berorientasi pada kepala sendiri, tentu sulit untuk mencari kisah dibalik semua yang ada didunia ini. Seluas apapun kita memandang, tentu akan sesempit kepala sendiri. Informasi seluas apapun, pasti tidak dapat disangkal, akan terkontaminasi dengan ke-sotoyan kita yang seakan sudah memproses seluruh rangasangan yang ada menjadi sebuah informasi yang murni.

    Kemarin saya berbicara dengan orang tua saya mengenai agama dan kebenaranya. Dan Ayah saya menganjurkan saya untuk membaca buku Emha Ainun Nadjib. Dia berkata, bahwa buku-buku nya akan membuat saya semakin mengerti mengenai apa itu Islam yang dia pahami.

    Singkat kata saya membeli sebuah buku karangan beliau, Slilit Sang Kiai, rangkaian kolom yang digabungkan menjadi sebuah buku. Beliau menuliskan mengenai pemikiran pemikirannya mengenai Islam dalam anekdot-anekdot sederhana, mengambil sudut yang cukup liar terutama bagi orang-orang penganut Islam ‘lurus’. 

    Ada sebuah kolom yang menarik perhatian saya, judulnya Makan-Minum Dak Tentu. Dalam tulisan itu, diceritakan dialog antara dia dan seorang kiai dari Madura. Alkisah, dalam kebudayaan Madura, ada sebuah kebiasaan yang menarik, yaitu perkataan dak tentu. Perkataan itu dikatakan sebagai wujud dari kesadaran terhadap relativitas. Suatu bentuk kehati-hatian yang tinggi terhadap berbagai ketidakpastian hidup.

    Dalam perbincangan, ustad dari madura itu mengatakan bahwa bahkan halal dan haram merupakan suatu hal yang sangat tidak tentu. Padahal dalam hukum fiqih (mungkin), hal itu sudah diatur dengan sangat terperinci. Namun si ustad membawa kita pada suatu perjalanan logika yang cantik sekali. Begini anekdotnya.

    "…Dengar, Dik. Kalau makan dan minum sekedar mubah atau halal, berarti manusia boleh tidak makan atau minum, karena tidak wajib. Kalau adik tak makan tak minum berarti adik menghina Tuhan yang sudah capek-capek bikin badan adik, berarti adik tidak memelihara amanah Tuhan. Jadi makan-minum itu wajib. Kalau adik bisa hidup tanpa  makan minum, berarti makan minum itu sunnah, karena adik toh dianjurkan menikmati rezeki Allah. Lha, kalau adik makan secara berlebihan yang melebihi standar kesehatan hukumnya jadi makruh. Apalagi makan secara berlebihan baik dalam jumlah maupun ‘Estetika makanan’ nya, maka bisa jadi haram…"

    Semua begitu subjektif, tergantung bagaimana kita menyikapi. Tergantung kepala siapa, melihat rangsangan yang mana, dari sudut pandang yang mana pula. Begitu tergantung, subjektifitas maha luas, maha beragam.

    Dalam tulisan berikutnya, Maha Satpam. Seorang santri menyalahkan seorang kiai karena tidak menindak tegas orang-orang yang minta doa ke kuburan, padahal menurutnya hal itu adalah perbuatan syirik. Intinya, dalam perbuatan syirik itu tidak berlaku dua dimensi, hanya dia dan perbuatanya. Namun jauh lebih jauh dari itu, konteks sekitar yang mendukung hal tersebut terjadi juga harus diperhatikan.

    "Anda begitu bangga menjadi satpam kehidupan orang lain. Bahkan anda tampak bermaksud menjadi maha satpa yang bermaksud memberantas syirik hingga darah penghabisan. Tetapi anda menodongkan laras senjata anda ke tubuh semut yang terancam badai api sehingga mengungsi ke kuburan yang sepi. itu karena mata pengetahuan anda tak pernah dicuci, kecuali oleh ulama-ulama yang memonopoli kempetisi pemikiran keagamaan, padahal mereka begitu pemalas mencucu mata umatnya, kecuali untuk soal-soal yang menyangkut kepentingan posisi mereka."

    Hal ini begitu indah, sangat masuk akal. URANG PISAN !

    Ya, tanpa penyangkalan inilah cara pandang yang saya anut. Tapi demi Tuhan. Saya menjadi bimbang, apakah ini kepentingan atau kebenaran?

    Apakah kepala ini sudah terlanjur memiliki filternya sendiri. Tak dapat disangkal kenyataan bahwa ayah saya besar dengan membaca buku ini, pemikiran ini. Dan tanpa disangkal, saya pun besar dengan didikan yang sama, pemikiran yang sama!

    Saya akan sangat jijik mendengarkan kehalalan darah bagi sesama untuk ditumpahkan, pemaksaan pemahaman, arogansi kebenaran yang dibawa organisasi-organisasi keagamaan yang marak terjadi sekarang ini. Dan menerima gagasan-gagasan mengenai hal yang sangat ‘postmodern’ ini dengan lapang. 

    Sehingga kebenaran pun sudah ditakdirkan bersama lahirnya kepala ini? Bersama dunia yang sudah tercetak didalamnya?

    Bagaimana kalau pemahaman yang tegas, buta konteks menjadi sebuah kebenaran yang hakiki? Ketika semua memiliki alasanya masing masing, tentu tidak dapat disangkal akan ada sejuta bahkan lebih, pemahaman akan kebenaran dan semuanya bisa saling tabrak, tumpang tindih, kacau balau? 

     
  6. Jawaban

    Malam jadi saksinya, kita berdua diantara kata yang tak terucap. Berharap waktu membawa keberanian untuk dapat membawa jawabnya. (Payung Teduh)

    Tumpo berdiri dengan kaki yang sudah bosan setengah mati, menopang kepala yang penuh dengan hitungan waktu dan juga pertanyaan-pertanyaan.

    Kala itu, batara kala kembali menabrakan lintasan takdir antara Tumpo dan Murti untuk bertemu kembali. Dewa bangsat yang humoris. Tumpo berdiri, di depannya berdiri pula Murti, hanya manggut-manggut, ya hanya itu, tanpa pretensi. Murni gerakan kepala naik dan turun. Kadang tergoda Tumpo, membayang kan gerakan yang tidak bermakna itu setidaknya punya tempat bersemayam, untuk dirinya, hanya untuk dirinya.

    Murti, oh murti tinggal kenangan. Sekarang Tumpo belajar menjawab pertanyaan, ‘bagaimana untuk tidak ikut tersenyum ketika Murti tersenyum, tidak selalu memandang matanya, ketika Murti tidak memandangnya, tidak merasakan kebahagian yang menjalar ketika bersamanya’ belajar menjadi Tumpo tanpa kehadiran Murti.

     
  7. Sekilas AEC

    “AEC adalah bentuk integrasi ekonomi yang direncanakan untuk dicapai pada tahun 2015. Dengan pencapaian tersebut maka ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan basis produksi dimana terjadi arus barang, jasa, investasi dan tenaga terampil yang bebas, serta aliran modal yang lebih bebas. Adanya aliran komoditi dan faktor produksi tersebut diharapkan membawa ASEAN menjadi kawasan yang makmur dan kompetitif dengan perkembangan ekonomi yang merata, serta menurunya tingkat kemiskinan dan perbedaan sosial ekonomi di kawasan ASEAN.

    Menurut Dr. Darwis Said, SE, M.Ak, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makasar

    “Kebijakan integrasi ekonomi negara-negara ASEAN membatasi kewenangan suatu negara untuk menggunakan kebijakan fiskal, keuangan serta moneter untuk mendorong dan melindungi kinerja ekonomi dalam negeri.

    Upaya optimalisasi potensi dan kesiapan hendaknya diarahkan pada penyiapan dan perbaikan infrastruktur fisik, reformasi regulasi dan kelembagaan, peningkatan kualitas SDM, penciptaan iklim usaha yang kondusif, dan pentingnya membangkitkan semangat nasionalisme terutama dalam mencintai produk dalam negeri.”

    Nasionalisme adalah faktor penting dalam mendukung daya saing suatu negara. Beberapa kelompok masyarakat lebih bangga dan lebih merasa nyaman menggunakan barang-barang luar negeri. Hal ini akibat pandangan mengenai kualitas barang luar yang lebih baik disertai pandangan pesimis mengenai kualitas barang lokal. Walaupun dalam kenyataanya dalam beberapa kasus barang-barang produk lokal memiliki kualitas yang lebih baik. Maka dari itu kecintaan terhadap produk-produk lokal adalah kunci yang penting agar Indonesia tetap menjadi tuan rumah di negaranya sendiri.

    Begitu pula dengan sumber daya manusia.

    Nasionalisme

    “Narasumber Verry Yahya dari staf ahli perindustrian mengakui indonesia tidak dapat menutup kran impor masuknya barang dan jasa asing yang telah disepakati bersama anggota komunitas Asean, hanya Nasionalisme kebangsaan akan tetap menggunakan dan mencintai produk dalam negeri menjadi senjata Indonesia menangkis arus AEC 2015 “

    Nasionalisme adalah rasa cinta pada negara sendiri. Kepekaan pada suatu hal yang fana, yang bahkan tidak bisa kita terka wujudnya. Tidak usah muluk untuk menjawab, pertanyaan kenapa, cobalah kita menyederhanakan pertanyaanya dengan sebuah pertanyaan apa, apa yang kita cintai?

    Nasioalisme pada apa? Pada negara yang korup, posisi 117, posisi bontot diantara negara-negara korup lainya? Pada negara yang masih membiarkan perbudakan di Sumba? Pada negara yang tidak sanggup berdaulat di tengah kelimpahan sumber dayanya? Pada Negara yang tidak dapat memberikan kenyamanan, menjamin kesehatan, bahkan tidak dapat juga menjamin pangan bagi warga negaranya sendiri? Apa yang benar- benar bisa kita cintai?

    Cinta itu irasional katanya. Nasionalisme adalah bentuk masocistme, menjadi bodoh, dungu, mencoba mencintai ibu tiri yang kejam durjana. Tapi memang itu yang dibutuhkan, keirasionalan cinta.

    Satu satunya cara untuk cinta Indonesia dengan mencinta. Maka mencintalah kawan.

    Cintailah harapan yang menggantung mengenai bangsa Indonesia yang digdaya, Cintailah rakyat yang masih percaya akan hari terang dikemudian hari. Yang harapan serta doanya menggantung pada punggung punggung muda, putera-puteri terbaik bangsa.

    Bagaimana cara menumbuhkan nasionalisme? Kecintaan kita terhadap negara kita ini berawal dari sebuah kepemilikan terhadapnya, tidak lagi perlu banyak alasan untuk bergerak. Karena kita warga negara Indonesia adalah satu-satunya alasan yang kita perlukan. Namun bagaimana cara menumbuhkanya?

    Nasionalisme adalah sebuah pembelajaran akan rasa, sebuah episteme. Seperti pembelajaran episteme lainya dibutuhkan keseharian dalam mencintai Indonesia. Dengan terus menerus membisikan nasionalisme, kecintaan terhadap bangsa sendiri, dalam kehidupan himpunan diharapkan anggota dapat menjiwai pergerakan untuk masyarakat. Keseharian adalah sebuah jembatan yang menghubungkan antara mengetahui potensi serta mengetahui permasalahan dengan pergerakan yang nyata. Keseharianlah yang pada akhirnya menumbuhkan kecintaan kita, menumbuhkan semangat perubahan.

    Seperti para pendahulu kita yang mencintai rakyat-rakyatnya, mencoba menghapuskan penderitaan rakyat yang tertindas, seperti para pendahulu kita yang mencintai harapan-harapan mereka ketika membayangkan kondisi merdeka. Mereka hidup dalam lingkungan yang terus menerus membisikan kata merdeka, melalui pemandangan gamblang penderitaan rakyat, melalui harapan kemerdekaan.

    Oleh karena itu kita memerlukan keseharian yang nasionalis.

    AEC adalah sebuah konteks yang nyata, yang menurut saya bisa digunakan sebagai momen untuk menumbuhkan nasionalisme. Menjadi keseharian, seperti halnya penjajahan di masa lalu. Sebuah peluang, yang mendukung namun juga menghimpit. AEC adalah sebuah bentuk ‘penjajahan’ yang dapat kita gunakan sebagai lecut cambuk untuk kembali memikirkan nasionalisme. AEC secara nyata dapat ‘menindas’ dengan kedatangan pekerja ‘penjajah’ yang ‘merebut’ lahan kerja rakyat Indonesia.

    Namun, kita juga tidak dapat terus menerus membohongi diri sendiri dengan menggunakan barang-barang yang memiliki kualitas buruk, mempekerjakan manusia dengan kualitas yang lebih rendah dibandingkan produk dan sumber daya negara. Memilih suatu hal yang lebih baik adalah sebuah keniscayaan. Sehingga  peningkatan kualitas merupakan suatu hal yang tidak dapat ditinggalkan.

    Mulai dari perbaikan Infrastruktur fisik, agar dapat meningkatkan kualitas dan daya saing produk lokal. Peningkatan mutu SDM sebagai faktor dari kualitas produk yang baik, serta menjadi komoditas jasa yang menjadi objek dalam pasar tunggal ASEAN.

    Bodoh rasanya, ketika kita masih bisa tenang, padahal kejadian agresi ekonomi ini tinggal menunggu waktu.

    Dimana Soekarno muda, Sjahrir muda, Yamin muda berada?

    Vivat-vivat G, IMA-G tetap jaya.

    Gagas Firas Silmi (15211006)

     
  8. …sedikit cemas, banyak rindunya…
    — Payung Teduh, Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan
     
  9. 02:19 13th Jan 2014

    Notes: 1

    Tags: TumpoMurti

    Hari itu perasaan Tumpo biasa saja. Datang terlambat dari waktu yang di tetapkan, seakan akan pertemuanya dengan murti sudah tidak sepenting dulu lagi. Setibanya di tempat yang dituju, Tumpo menyelipkan motornya diantara jubelan kendaraan roda dua lainya. Entah muncul dari mana motor sebanyak itu pikir Tumpo. Setelah menitipkan helm, Tumpo berjalan lambat-lambat tak tergesa gesa, toh ini hari yang biasa.

    Setibanya ditempat yang dijanjikan, untuk beberapa saat Tumpo tidak melihat Murti. Tidak ada pula rasa kecewa, apa pula yang dikecewakan, pertemuan ini tidak jadi pun dunia masih berputar, dan batara kala tetap akan mendorong kita semua ke sudut sudut dimensi yang telah di takdirkan.

    Sampai ketka murti melambaikan tangan dengan kecerianya yang biasa. Tumpo menyambut sapaan itu dengan balasan yang sama hangatnya. Seperti biasa. Perbincangan tak ubahnya seperti perbincangan teman lama yang tidak lagi bertemu untuk waktu yang lama. Perbincangan biasa, kabar, cerita di perantauan, dan sekian lagi pembicaraan normal lainya.

    Dan Tumpo menyadari, Murti pun merasakan hal yang sama.

     
  10. 02:16

    Notes: 2

    Tags: doa

    Doa

    Doa merupakan bentuk ibadah yang paling jujur. Simpuh kita, tangis kita, gelisah kita, menempatkan kita pada penghambaan tulus, rendah untuk memohon pada suatu yang diam, tidak berwujud. Pada tuhan.

    Beruntung lah pada manusia yang masih bisa berdoa dalam tangis, penuh pengharapan.