1. Batas Norma

    Kadang saya bingung pada keambiguan bahasa. Kekomplesitasan dari bahasa sangat lah berbelit belit dan menabrak batas disana sini. Kamu bahkan tidak perduli apakah suatu bahasa yang kamu pakai adalah bahasa yang baik, sebenarnya yang kamu mengerti adalah konteks.

    Ketika kamu berbicara konteks, bahasa kembali menemui sebuah kerumitan, bukan rumit bagi pemakai namun rumit bagi yang menelaah, dan bertanya. Sebuah kata dapat memiliki arti, sehingga kata bukan hanya menjadi kumpulan huruf yang dibunyikan.

    Kamu akan tersinggung ketika di katai anjing dengan konteks bahwa kamu anjing bermuka manusia yang bedebah jadah, namun anjing menjadi sebuah koma, titik dan kata ganti di kehidupan sehari hari tidak menyinggung siapapun dan menjadi tahapan komunikasi verbal yang lebih akrab.

    yang lebih aneh lagi adalah, kata seperti goblog. kata goblog tidak merujuk pada pengganti kata yang lain (kecuali bodoh bukan kepalang). Namun kata yang tidak ‘berarti’ itu menjadi kalimat yang dapat menyinggung seseorang.

    Peran kata sebagai alat komunikasi verbal yang membingungkan, karena bukan kata lah yang kita terima dan terjemahkan, namun konteks yang tersirat dalam katalah yang mengungkapkan isi diri.

    Kalau kamu perhatikan, ketika kamu selesai membaca dan berkata ‘ohh’ (mengerti). Yang kamu mengerti adalah konteks dari bacaanmu.