1. Hanya Rasa

    Yang kamu apresiasi dari sebuah makanan biasanya hanyalah rasa. Rasa mendominasi pemikiranmu sehingga itu mendefinisikan makanan itu sendiri.

    Hem, rasa bakso itu terasa bakso sekali.

    Tapi rasa yang mendominasi tadi sesungguhnya hanyalah bagian kecil dari keagungan, keindahan, keenakan dari proses makan. Kamu sebenarnya tidak dapat membedakan makanan hanya dari rasa, manusia hanya dapat mengecap sedikit sekali rasa, antara manis, asin, asam, pahit dan umami, dan perpaduannya. Pernah makan bawang? bawang ditambahkan ke makanan bukan karena menambah rasa, tapi bawang membawa aroma.

    Ayah ku pernah memasakan ku bawang panggang, dan rasanya tidak lebih berasa dari kacang tanpa garam.

    Aroma, manusia dapat membedakan aroma lebih baik daripada rasa. Vanili, memiliki bau yang begitu luarbiasa, merangsang air liur kita mengalir dan membuat kita membayangkan berbagai macam dessert, atau tumisan bawang atau terasi, tentu kita sering menjumpai terasi di makanan indonesia, dan untuku pribadi terasi membuatku berfantasi. Jadi Aroma adalah bagian lain yang membawa kita berpetualang dalam kegiatan makan.

    Tekstur, oh memainkan indra kita dengan baik sekali, memaksa kita untuk mendalami kekontrasan antara lembut dan keras. Renyah adalah salah satu kenikmatan yang ditimbulkan dari tekstur, ketika kerenyahan di padu dengan kelembutan ohh, sensasi ‘kesusah payahan’ untuk menembus, di balas dengan kelembutan yang mengalir keluar, sungguh surga dunia.

    Jus bakso, ada yang tertarik?

    Ketiga unsur tadi lah yang membuat kita dapat menikmati makanan kita. tentu semuanya relatif, ketika ketiganya berpadu dalam suatu kesatuan yang harmonis, tentu lidah tidak akan bohong.

     
    1. gagasan posted this