1. Kerumitan Jewo

    Ini untuk kebaikannya, atau sebagai ego pribadi, ego komunal untuk bersama sama? Jangan biarkan ego membuat kita menghalangi proses baik yang bisa dilaluinya.

    Begitu teganya kamu meninggalkan temanmu?

    Jewo sekarang menangis, tetesan pertama untuk kebahagiaan teman temanya, tetesan kedua untuk kekecewaanya. Dalam kehampaan perasaan ini Jewo bingung untuk berekspresi, bingung untuk menanggapi atmosfer kesenangan yang membumbung ditengah awan yang begitu mendung dan muram di hatinya. Takut merusak kebahagiaan, juga dia tidak tahan terus menyimpannya dalam hati. Dia menunggu orang lain menyelam kedalam hatinya dan mengajak dia bicara.

    Jewo menyadari prosesi yang dia lewati karena sakit merupakan proses yang berharga. Proses yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Namun dalam hati Jewo, dalam hatinya Jewo miris, dia tahu, dia tidak bisa ikut bersama menghirup udara di bawah atmosfer kebahagiaan itu, sekarang atau mengkin juga tahun depan.

    Remsa, merasa bertanggung jawab akan kesedihan Jewo. Dia menyadari bahwa tidak ada yang lebih diinginkan Jewo selain bersama sama, bersama-sama menghirup kebahagiaan sampai dalam, sampai tulang. Tapi Remsa menyadari, ketika dia menarik Jewo dan membiarkan Jewo untuk menghirup udara kebahagiaan itu, maka dia hanya akan membiarkan Jewo menghirup kekecewaan. Karena kebahagiaan itu bukanlah apa yang dihirup saat ini, tapi kebahagiaan adalah satu rona tipis dari proses panjang yang dilalui. Bukan hal instan.

    Proses panjang yang menempa, hingga setiap orang yang menghirupnya dapat menghayati kebahagiaan itu sendiri. Remsa, ingin Jewo melalui proses itu dan menjadi pribadi yang bisa menghayati setiap kebahagiaan yang dia hirup.

    Tapi Remsa tahu betapapun besarnya dia membuat Jewo dan dirinya sendiri untuk mengerti, Dia tahu dikedua hati itu ada rasa sakit yang tergores, rasa sakit meninggalkan dan ditinggalkan, rasa sakit tidak acuh dan tidak diacuhkan.

    6/30/12